October 31, 2012

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia terletak di Kawasan Kota Tua Batavia yakni di
Jalan Pintu Besar Utara no 3, bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri. Museum Bank Indonesia memiliki begitu banyak koleksi. Pengunjung tidak akan terlewatkan sajian dari Museum Bank Indonesia karena jalur pengunjung dibuat satu arah sehingga cukup dengan mengikuti petunjuk arah maka kunjungan kita ke museum ini benar benar bermakna dan menambah ilmu.

Sebut saja di pintu awal kita masuk maka kita akan dibawa ke masa lalu tentang maraknya perdagangan di Nusantara sebagai bagian dari perdagangan Asia dan merupakan cikal bakal munculnya perbankan di Nusantara.

Yang diperdagangkan adalah rempah rempah seperti pala, cengkih, lada dan kayumanis.

Ternyata penemuan Nusantara sebagai negeri yang kaya rempah rempah adalah terobosan yang mampu dilakukan oleh bangsa Eropa. Nusantara ditemukan oleh Bangsa Portugis pada abad ke 15 setelah menemukan jalan lewat laut ke Nusantara dengan mengitari Afrika. Tanjung Pengharapan yang merupakan ujung selatan dari Benua Afrika benar benar memberi pengharapan kepada para pelaut Eropa menemukan jalan ke Timur lewat laut. Jalur ke timur yang misteriuspun terbuka dan pada abad ke 17 Banten telah menjadi kota pelabuhan kosmopolitan.

Pada bagian selanjutnya kita akan disajikan sejarah perekonomian Indonesia dengan segala lika likunya yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah perbankan Indonesia..

Di sepanjang jalur pengunjung juga kita akan menemukan monitor monitor touch screen yang berisikan materi tentang ilmu dan sejarah perbankan.

Pada ujung jalur yakni mendekati pintu keluar kita akan menemukan begitu banyaknya koleksi uang dari berbagai penjuru dunia yang ditata dengan sangat apik.

October 18, 2012

Gedung Ex Chartered Bank

 Jika kita naik angkot M 08 dari arah Tanah Abang atau M 12 dari arah Senen maka kita akan melewati gedung ini setelah melewati Jembatan Kali Besar. Saat ini juga di depan gedung yang bersebelahan dengan Toko Merah ini sedang dibangun Halte Busway. Gedung ini adalah milik Bank Mandiri dan merupakan aset sejarah warisan zaman kolonial Hindia Belanda.

Gedung ini pada saat dibangun pada tahun 1920 oleh seorang arsitek bernama EHGH Cuypers adalah era di mana perdagangan Pemerintah Hindia Belanda sedang jaya jayanya dengan cukup gencar melakukan pembangunan di Batavia. Sedangkan posisi di mana gedung ini berada merupakan pusat bisnis pada masa tersebut karena tepat berada di depan jalur transportasi air yakni Kali besar dan juga jalur darat yakni jalan Kalibesar Barat.

Bagaimanakah sejarahnya sehingga gedung ini menjadi milik Bank Mandiri ?
Gedung ini dibangun sebagai kantor cabang Chartered Bank of India, Australia dan China di Batavia. Namun pada tanggal 2 Maret 1965 diserahkan oleh pemerintah pengelolaannya kepada Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian menjadi Bank Bumi Daya (BBD) Desember 1968

October 17, 2012

Museum Bank Mandiri

Salah satu gedung yang berisi koleksi perbankan yang cukup banyak adalah Gedung Museum Bank Mandiri yang berseberangan langsung dengan Stasiun Kereta Api Beos.

Jika kita turun di Halte Busway Stasiun Kota dan melewati under pass pejalan kaki dengan turun lewat jalan berbentuk lingkaran maka pada saat kita naik kembali lewat tangga pintu barat maka di pintu keluar kita langsung menemukan gedung Museum Bank Mandiri. Sebuah gedung warisan Kolonial Belanda yakni sebuah karya masterpiece yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta no 475/1993. Gedung ini dirancang oleh dua orang arsitek Belanda yakni J.J.J. De Bruyn A. P Smits dan C Van Der Linde, mulai dibangun 1929 oleh kontraktor Nedam dan diresmikan 14 Januari 1933 sebagai Gedung Factorij Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Batavia. Sebutan lain untuk gedung ini adalah Nederlandsche Trading Society (NTS).

Pada masa Perang Dunia II Jepang mengalahkan Sekutu di Asia dan mengakhiri kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda di bumi nusantara. Selama masa pendudukan Jepang gedung ini ditutup yakni sejak Maret 1942 dan beroperasi kembali 14 Maret 1946. Setelah dinasionalisasi oleh Republik Indonesia, kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) 5 Desember 1960. Gedung ini menjadi Kantor Pusat BKTN urusan ekspor impor. Pada tanggal 17 Agustus 1965, dimulainya era bank tunggal maka gedung ini menjadi salah satu Kantor Pusat BNI unit II sampai 31 Desember 1968 yang merupakan hari lahirnya bank Exim Indonesia dan menjadi Pusat Bank Exim hingga 1995. Setelah itu pindah ke kantor pusat yang baru di Jalan Gatot Soebroto Kavling 36-38 yang sekarang adalah Plaza Mandiri.

Loket masuk ke Museum Bank Mandiri ini memanfaatkan sebagian kecil dari ruas meja yang dulunya meja teller yang cukup panjang di mana nuansa gedung saat masih beroperasi dicoba untuk tetap dihadirkan seperti dengan tetap menempelkan informasi yang dibutuhkan oleh nasabah yang berkunjung pada masa itu. Demikian pula dengan banyaknya patung patung yang tampak sedang beraktifitas baik sebagai karyawan bank maupun sebagai nasabah.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menelusuri museum ini dari ujung ke ujungnya dan dari lantai atas hingga lantai bawa.

Yang cukup menarik adalah bukan semata kita ditunjukkan benda benda kuno perbankan namun terlebih lagi adalah tanpa sadar bagi yang awam tentang perbankan bisa memperoleh begitu banyak ilmu terutama ilmu dasar tentang operasional perbankan serta bagaimana perbankan beradaptasi dengan kemajuan teknologi

October 6, 2012

Prasasti Tugu

Prasasti Tugu ditemukan di kampung Batutumbuh, Desa Tugu, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu berbentuk bulat telur setinggi sekitar 1 meter dalam 5 baris Pallawa dan Bahasa Sansekerta. Pada Prasasti Tugu tidak tercantum tahun berapa tahun berapa prasasti tersebut dibuat tetapi berdasarkan bentuk tulisannya diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke 5.

Prasasti Tugu merupakan prasasti peresmian selesainya pembangunan saluran kali Gomati pada tahun ke 22 pemerintahan raja Purnawarman.
Sumber : Museum Sejarah Jakarta

Museum Wayang

Museum Wayang adalah museum tentang pewayangan. Wayang adalah kasanah seni Jawa dan Sunda yang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 Nopember 2003 di Paris. Dengan memproklamirkan wayang Indonesia sebagai Masterpiece Of The Oral and Intangible Heritage of Humanity di mana Wayang Indonesia telah diakui sebagai karya agung budaya dunia.

Secara resmi penyerahan Piagam penghargaan UNESCO dilaksanakan tanggal 21 April 2004 di Paris, Perancis

Gedung Museum Wayang yang berada di dalam kompleks Kota Tua beralamat di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27 Jakarta Barat dibangun tahun 1912 yang sebelumnya merupakan gereja yang dibangun pada tahun 1640 dengan nama De Oude Holandsche Kerk. Pada tahun 1732 gereja ini direnovasi dan namanya diganti menjadi De Niew Holandsche Kerk.

Bangunan gereja ini pernah hancur total akibat gempa bumi. Genootshap van Kunsten en Wetwnschappen yaitu lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia membeli bangunan ini. Oleh lembaga itu gedung tersebut diserahkan kepada Stichting Oud Batavia. Pada tanggal 22 Desember 1939 dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasche Museum. Pada tahun 1957 gedung ini diserahkan kepada Lembaga kebudayaan Indonesia dan pada tanggal 17 September 1962 diberikan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang selanjutnya diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta pada tanggan 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang. Museum Wayang diresmikan Gubernur DKI Jakarta (mantan) bapak Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975 dan sejak 16 September 2003 mendapat perluasan bangunannya hibah dari bapak H Probosutedja

Patung Dewa Hermes

Patung ini dibeli di Hamburg pada tahun 1920an oleh seorang pedagang Jerman yang kemudian menjadi warga negara Belanda bernama Karl Wilhelm Stolz. Beliau mempunyai toko di Jalan Veteran, Batavia.

Patung Hermes berdiri di halaman rumahnya walapun istrinya sama sekali tidak senang dengan patung "porno". Setelah istrinya meninggal dunia tahun 1930 dia menjual tokonya dan patung Hermes disumbangkan kepada pemerintah Batavia sebagai tanda terima kasih atas kesempatan yang dia dapatkan untuk berdagang di Hindia Belanda.

Kemudian patung diletakkan di atas Jembatan Harmoni dan konon berulang kali dicat sesuai warna jembatan. Namun dengan pertimbangan keamanannya patung dipindah pada tahun 2000 ke halaman belakang Museum Sejarah Jakarta.

Sebagai gantinya sebuah replika dibuat oleh pematung Arsono dari Yogyakarta dan diletakkan di Jembatan Harmoni.

Dalam mitologi Yunani Dewa Hermes (atau Dewa Mercurius menurut Bangsa Romawi ) adalah Putra Dewa Zeus dengan Peri Maya. Hermes merupakan pesuruh dan pembawa berita terutama berita dari Dewa Zeus. Hermes seorang Dewa yang cerdas dan cepat gerak geriknya. Hermes merupakan Dewa Pelindung para gembala, pedagang, pengantar roh roh ke alam baka dan juga pelindung sekolah sekolah dan olah raga serta para atlit.

Hermes ditampilkan sebagai pemuda yang memakai topi dalam posisi sedang berlari bertumpu pada satu kaki (Kaki bersayap lambang kecepatan) memegang tongkat bersayap dan dililit dua ekor ular lambang perdagangan atau juga dapat digambarkan dengan memegang sebuah dompet lambang pedagang pedagang

Penjara Di Gedung Balai Kota

Selain sebagai balai kota, Gedung Museum Sejarah Jakarta juga berfungsi sebagai penjara, yakni penjara Dewan Keadilan dan penjara Dewan Kotapraja yang mempunyai penjaranya sendiri sendiri.

Penjara di bawah wewenang Dewan Keadilan berada di bagian timur gedung Balai Kota (Sekarang Kantor Kota Tua) dan dipakai untuk tahanan VOC sedangkan Penjara di bawah wewenang Dewan Kotapraja adalah di bagian barat dekat jalan Pintu Besar dan dipakai untuk tahanan warga Kota Batavia yang bukan pegawai VOC. Halaman belakang dan beberapa gedung di sampingnya juga dipakai untuk penjara dan rumah penjaga.

Selain ruang penjara tersebut ada juga ruang di bawah penjara Dewan Kotapraja ("doncker gat" atau lubang gelap), serta nama sebuah sel dibawah gedung belakang yang lebih dikenal dengan "Penjara Bawah Tanah" (Dua ruang di bawah wewenang Dewan Keadilan dan tiga di bawah wewenang Dewan Kotapraja )

Tahanan bukanlah orang orang yang sudah diadili tetapi menunggu proses pengadilan (menunggu keputusan hakim ). Pada abad 17 dan 18 ada beberapa bentuk hukuman yaitu hukuman mati, hukuman siksa, hukuman dirantai dan kerja keras namun sejak abad 19 baru ada hukuman penjara.

Yang tinggal lama di penjara hanya ada dua kelompok yaitu budak budak yang dikirim oleh majikan mereka karena pelanggaran yang seringkali bersifat sepele dan orang yang belum melunasi utangnya dan memilih tinggal di penjara saja. Dengan membayar sipir kondisi mereka di penjara tidak terlalu buruk.

Jumlah tahanan yang meringkuk di dalam penjara sering melebihi tiga ratus orang. Karena kondisi kesehatan penjara ini sangat buruk banyak tahanan yang sudah meninggal sebelum perkara mereka diajukan ke meja pengadilan sebagian besar akibat menderita tifus kolera dan disentri.

Penjara ini ditutup 1846 lalu dipindahkan ke sebelah timur Jalan Hayam Wuruk (sekarang pasar Lindeteves)

Hukuman mati dilaksanakan di depan serambi yang bertiang tiang pada hari tertentu setiap bulan. Para hakim duduk mengenakan pakaian kebesaran mereka pada balkon di lantai dua untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati. Sedangkan lonceng di menara gedung dibunyikan 3 kali selama proses pelaksanaan hukuman mati

Pejuang yg pernah ditawan disini antara lain Untung Suropati seorang budak belian pedagang Pieter Cnoll, dia adalah satu dari sedikit sekali orang yang bisa meloloskan diri dari perkara ini (sekitar tahun 1670). Dia kemudian memberontak melawan Belanda dan terlibat dalam pembunuhan Captain Tack pada tahun 1686 di Kraton Kratosuro. Meninggal 1706

Pada tahun 1830 Pangeran Diponegoro Pahlawan Perang Jawa tahun 1825-1830. Ditahan selama hampir satu bulan di tingkat dua dalam sayap gedung sebelah timur setelah dia ditangkap di Magelang secara khianat sebelum pengasingannnya ke Manado.

Sel dibawah tanah menggunakan tralis yang sangat kuat. Bola bola yang kuat diikat pada kaki tawanan supaya mereka tidak bisa lari.

Hukuman mati Tjoen Boen tahun 1896 di depan gedung Balai Kota merupakan eksekusi yang terakhir di tempat ini.

Sumber : Museum Sejarah Jakarta

Mimbar (Pulpit)

Mimbar ini berasal dari Mesjid Kampong Baru / Mesjid Bandengan yang terletak di selatan Ammanusgracht, sekarang Jalan Bandengan Selatan (Simpang Jalan Pekojan 1)
Mimbar ini dibuat pada pertengahan abad 18 dan seluruhnya dibuat dari kayu jati. Ukiran menikuti gaya VOC yang umum pada zaman itu. Pada tahun 1939 pengurus mesjid menjual mimbar ke Batavia Genootschap (Sekarang Museum Nasional) dan dananya dipakai untuk memperbaiki mesjid tersebut. Karena banyak kena rayap mimbar direnovasi dan beberapa bagian diganti. Di dalam mesjid mimbar baru dibuat dari beton.

Meriam Si Jagur

Meriam Portugis ini dibawa ke Batavia oleh Belanda sesudah merebut Malaka (1641). Panjangnya 3.81 m, beratnya 3.5 ton dan diameter dalam atau kaliber 24 cm, cocok untuk peluru batu 36 pound atau peluru besi 100 pound. Pada awal ditempatkan di Benteng Batavia untuk menjaga pelabuhan, tetapi kemudian dipindahkan ke magasin altilery dekat jalan Tongkol. Sesudah magasin dibongkar pada tahun 1810 meriam Si Jagur ditinggalkan. Mungkin karena terlalu berat.
Bentuk meriam Si Jagur ini unik karena bagian belakang berbentuk tangan dengan ibu jari dijepit antara telunjuk dan lari tengah. Kepalan tangan diperkirakan kepalan tangan perempuan. Bentuk kepalan tangan tersebut dalam Bahasa Portugis disebut "mano in figa" yang dapat diartikan sebagai simbol untuk menangkal kejahatan atau juga untuk mengejek orang Belanda, musuh besar orang Portugis

October 2, 2012

Transyogi, The Street of Presiden

Where is the street ? If we go to Bogor via Jagorawi toll, we will pass the exit toll Cibubur. If we try to enter this gate will find Transyogi street. Transyogi street spread from the Cibubur exit toll gate untill Cileungsi, a little city at southeast side of Jakarta. But this time Jakarta and Cileungsi were developing to be one city.
The fusion Jakarta and Cileungsi go on at along this street namely Transyogi. This street developing very fast and finally almost crowded when Susilo Bambang Yudoyono (SBY) that address in this street filled as Indonesian President in 2004, exactly in the place said Cikeas. Cikeas name had been a brand than always used by developer in selling their property that before so much constructed around Cikeas. 

Along this street we'll find Jambore Buperta, McDONALD Drive Thru, Pizza Hut, Cwie Mie Malang, Dunkin Donat, Dermaga Dimsun, Cibubur Point,Fiesta Steakhouse, Hanamasa, Prodia Lab, Plaza Cibubur,
Rafles Hills, SPBU Petronas,Taman Laguna, Puri Sriwedari, Permata Hospital, Meilia Hospital,Cibubur Residence etc

September 27, 2012

Grand Paragon Gajah Mada

Grand Paragon Gajah Mada building located in Gajah Mada Street. Just about 5 kilometer from National Monument (MONAS = Monument National) and just about 2 kilometers from The Old Batavia. This building consists of hotel, restaurant, and shopping centre. The interesting thing about this building is around this place never lonely untill morning caused by night life where not far from here we'll find much night club, entertaint service and karaoke like Stadium, Sun City, Sydney 2000, Diamond, Crown, Club 36 and others.
So easy to get this place by public transport. From Tanah Abang by Angkot M08 (red M kosong delapan), from Senen by Angkot M12 (M dua belas) or from much place just using Trans Jakarta busway, stopping at Mangga Besar Shelter at Corridor 1 (Blok M - Kota Route)

September 25, 2012

Angkot M12 Transportation

Angkot (ANGkutan KOTa) means city transportation. M12 is the code of transportation route. The route is Senen to Old Town vice versa. Senen is passenger terminal to much destination. So is The Old Town that always said The Oud Batavia or Old Town Batavia.

Senen Terminal and around consists of much shopping centre like Plaza Atrium Senen and Senen Market.

The Old Town is a tourism object. A city about Jakarta history. Consists of old buildings that visited much people

September 24, 2012

Metro Mini

Only 2.000 IDR you can go trace the Jakarta's street by this bus, Metro Mini that consists of much route . This is Metro Mini 07 with Route Senen - Semper. We will spend more than 50.000 IDR if trace this route by taxi. This transportation has used by Jakarta's community for long time ago. Eventhough this time we can find new transportation namely busway but the Metro Mini still be the choice by much people.

September 23, 2012

Bantaran Kali Besar

Bantaran Kali Besar yang menjadi bagian dari Kota Tua dimulai dari Jembatan Batu dekat pusat perbelanjaan Asemka hingga ujung Kali Besar yang bermuara di Pelabuhan Sunda Kelapa. Bisa dibayangkan betapa ramai dan indahnya ruas kali ini di masa kejayaannya.

Sepanjang ruas kali yang diapit oleh jalan raya ini berdiri gedung gedung yang tentu saja megah pada masanya di mana saat ini merupakan tempat untuk duduk ngobrol sambil menikmati makanan ringan nan murah. Suatu tradisi yang perlahan lahan terbentuk oleh para pencinta Kota Tua yang sebagian besar seakan terhalau dari ruang ruang utama kota Jakarta yang seakan tidak memberi ruang bermain yang bebas dari pungutan biaya.

Suhu udara di tempat ini lumayan enak karena Kali Besar ini lumayan lebar sehingga sirkulasi udara lancar.

April 3, 2012

Pustaka Sejarah

Portugal adalah Bangsa Eropa yg pertama datang ke Sunda Kalapa di tahun 1513. Mereka datang dari Malaka dipimpin Joao Lopez de Alvin. Pada tanggal 21 Agustus 1522 dilakukan penandatanganan perjanjian persahabatan antara Portugal dan Kerajaan Sunda yang pada masa itu dipimpin Raja Surawisesa. Namun perjanjian tersebut tidak lanjut karena pada tahun 1527 Sunda Kalapa jatuh ke tangan pasukan Islam Demak Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah. Namun demikian pedagang Portugis masih dapat melakukan aktifitasnya dengan penguasa setempat sehingga pengaruh sosial budaya Portugal nampak hingga abad 18.
Kutipan di atas didapatkan dari Museum Sejarah Jakarta. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari Museum Sejarah Jakarta tersebut. Selain teks teks tentang sejarah Jakarta juga terdapat bukti bukti sejarah berupa prasasti dan patung patung. Jadi selain sebagai tempat untuk menikmati keindahan sejarah masa lalu, museum sejarah Jakarta juga adalah pustaka sejarah

March 20, 2012

"Pasar" Kota Tua

Kota Tua juga bisa dijadikan tujuan berbelanja. Di hari hari biasa di halaman Museum Fatahillah terdapat penjual pakaian, sepatu, asesoris, obat, lampu lampu hias, tas dan lainnya oleh para pedagang dengan menggelar tikar di halaman terbuka walaupun harus selalu was was jika musim hujan karena minim tempat untuk berteduh.

Sedangkan di hari hari tertentu sering diadakan event bazar yang biasanya diikuti oleh pedagang dengan skala yang lebih besar. Ciri khas dari para pedagang berskala besar yang saya maksud adalah dengan membangun tenda tenda sehingga kehadiran mereka lebih terkesan ekslusif. Berbagai penawaran yang lain sepeti tukang gigi, permainan, hingga tulang ramal cukup menambah komplit "Pasar" Kota Tua ini.

Kota Tua Kota Kuliner

Dalam Kompleks Kota Tua terdapat Cafe Batavia yang lebih banyak dikunjungi wisatawan asing. Cafe ini bersebelahan dengan sebuah minimart waralaba dengan barang dagangan yang lebih didominasi makanan dan minuman.
Di luar dari itu makananan yang dijual dalam Kompleks Kota Tua adalah makanan rakyat atau jajanan pasar dengan harga murah.
Halaman depan Museum Fatahillah yang lumayan luas dipenuhi oleh para penjual dengan menggelar tikar seadanya. Di sela sela penjual tersebut terdapat sebagian penjual makanan dan minuman ringan. Duduk lesehan sambil menikmati secangkir kopi di tempat ini sepertinya punya makna tersendiri dibandingkan ngopi di tempat lain. Dengan alam terbuka walaupun ubin tempat duduk terasa agak panas sisa terik matahari siang namun semua hal yang membuat pengap terbang dengan bebas ke langit terbuka sehingga hawa tempat menikmati makanan ini bisa dianggap sejuk alami untuk ukuran daerah tropis.
Di sekeliling pinggiran halaman Museum Fatahillah juga terdapat para penjual makanan mulai dari nasi goreng, nasi padang, sate padang, nasi pecel, gado gado, berjejer berselang seling. Harga makanan mungkin tidak jauh berbeda dengan harga makanan di sekitar lingkungan tempat tinggal kita.

Kota Tua Kota Seniman

Nuansa artistik begitu terasa jika menginjakkan kaki di Kota Tua Batavia. Sebut saja Gedung Museum Fatahillah yang merupakan bekas Balai Kota Jakarta. Ada juga gedung gedung yang sangat artistik di pinggir Kali Besar. Gedung gedung ini pastinya adalah gedung yang megah dan indah pada masa lalu di saat Kawasan Segitia Emas dan sekelasnya mungkin masih merupakan rawa atau hutan.
Panorama masa lalu ini sepertinya sudah menyebar dan melekat di hati para fotografer yang tak lain adalah wisatawan lokal yang panen objek pemotretan di setiap sudut Kota Tua. Setiap saat selalu tampak rombongan fotografer lengkap dengan peralatan dan foto modelnya. Setiap tempat di Kota Tua bisa menjadi latar pemotretan mereka.
Demikian pula dengan para pelaku sinema baik itu sutradara, kameramen hingga pemain cukup akrab dengan Kawasan Kota Tua sebagai lokasi syuting. Ada pula kelompok seniman lain walaupun kelasnya agak berbeda yakni pengamen yang jumlahnya lumayan banyak terutama di malam hari setelah turun dari kereta dan mengaso sejenak sambil sekali sekali mencari objek ngamen di sela sela kompleks Kota Tua.
Ada pula seni yang saya kurang senangi yakni seni menggambar di bagian tubuh tertentu alias tato. Para penawar jasa tato biasanya menggelar tikar di halaman Museum Fatahillah.
Layanan seni yang agak formal adalah pagelaran wayang yang jadwalnya dapat kita lihat di halaman Museum Fatahillah.

Kota Tua Kota Hantu

Sebagian Kota Tua terdiri dari bangunan tua yang kosong dan gelap sehingga bisa membuat bulu kuduk merinding, jangan jangan ada "penghuni"nya. Saya tak paham dunia hantu namun ada sebuah pendapat pada sebagian masyarakat bahwa setiap rumah yang ditinggalkan kosong dalam waktu yang cukup lama akan dimasuki oleh penghuni alam lain, hantu. Hal ini dikuatkan oleh fakta bahwa lokasi Kota Tua menjadi lokasi langganan syuting film film horor yang nilai pasarannya cukup tinggi dalam masyarakat Indonesia. Dari segi artistikpun memang bangunan tua sangat cocok menjadi latar pembuatan film horor. Sekedar info bahwa di dekat Kawasan Kota Tua pernah terjadi pembantaian terhadap etnis China yang dilakukan oleh VOC di Glodok, sebelah selatan Kawasan Kota Tua. Ribuan etnis China yang kebanyakan adalah pedagang dihabisi oleh VOC dan menurut sumber sejarah bahwa pembantaian tersebut menyebabkan Kali Besar menjadi merah darah. Mungkin tidak ada kaitannya sama sekali dengan Kota Tua yang seram yang saya maksud namun bayangan pembantaian tersebut bisa memberi andil akan bayangan Kota Tua yang telanjur dicap Kota Hantu bagi sebagian orang.

Kota Tua Kota Jorok

Menjelang maghrib di saat lampu lampu di sepanjang bantaran Kali Besar Kota Tua mulai menyala saat saya sedang duduk menghadap Kali Besar tiba tiba tampak di depan mata saya sampah sampah yang lumayan banyak terapung bergerak terbawa air kali. Saya cukup kaget walaupun saya tahu kalau memang Kali Besar sama saja dengan sungai yang lain yang ada di Jakarta yang akrab dengan sampah namun ternyata sampah sampah di kali pun ternyata ada saat saat di mana jumlahnya mencapai puncaknya. Kali Besar pun sepanjang hari mengeluarkan bau yang tidak sedap karena sampah. Sumber utama dari segala yang membuat Kota Tua jorok sebenarnya datang dari Kali Besar yang konon pada zaman Belanda merupakan pasokan air minum. Kota Tua juga jika dibandingkan dengan tempat wisata lainnya jauh lebih semrawut. Kota Tua diperlakukan seperti jalan jalan raya di Jakarta yang dibiarkan berhias sampah selama aktifitas masih berjalan. Baru setelah bersih dari pedagang kali lima pasukan petugas kebersihan kota dikerahkan yakni saat sejenak Kota Tua sepi pengunjung.
Namun faktanya kejorokan Kali Besar tidak berpengaruh pada sekian banyak pengunjung yang menghabiskan waktunya di Kota Tua dengan duduk berlama lama di bantaran Kali Besar.

March 10, 2012

Sisa Peradaban

Lantas apakah sebenarnya yang menarik di kawasan Kota Tua. Kalau hanya sebatas jejak sejarah, apanya yang menarik. Bukankah ada Taman Mini Indonesia Indah, Kebun Binatang Ragunan, yang ditata untuk menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi atau bermain. Atau monumen Gerakan 30 September di Pondok Gede yang lebih bernilai historis ? Sama sekali tidak bisa dibandingkan karena masing masing memiliki nilai lebihnya. Dibandingkan dengan objek wisata lainnya di Jakarta, Kota Tua adalah objek wisata yang tidak dibangun untuk tujuan wisata tetapi adalah sisa peradaban yang tentunya terbangun sendiri secara alami sesuai dengan kebutuhan pada masanya yang dijalani oleh sebuah kota yang kini telah menjadi kota tua.

Memasuki kawasan ini membawa kita ke suatu masa bahkan mungkin menggerakkan kita untuk membuka kembali buku sejarah yang sempat kita pelajari dengan bukti sejarah yang masih bisa kita saksikan.

Masa jaya yang telah berlalu

Menyusuri kompleks Kota Tua Jakarta sambil mengamati dinding serta kerangkanya sejenak akan membawa kita kepada suatu kehidupan yang bekasnya nyaris hilang. Faktanya memang kawasan ini seperti kota mati sebelum dicoba dipugar kembali di mana dampak dari pemugaran tersebut hasilnya dapat kita rasakan langsung jika memasuki kompleks ini. Semarak kehidupan pasar malam cukup mengangkat Kota Tua sebagai kawasan yang cukup diperhitungkan baik untuk berjualan ataupun untuk berbelanja walaupun mungkin hanya untuk kalangan menengah ke bawa.

Jika kita mencoba mengamati kembali gedung gedung tua di kompleks ini maka segala keprihatinan pun akan melanda pikiran kita karena pada faktanya masih ada bangunan bangunan di kota tua yang nyaris roboh. Walaupun di gedung gedung tersebut seakan bercerita akan masa di mana mereka pernah berjaya sebagai gedung gedung terbaik di Batavia.

March 9, 2012

Membuat diri nyaman dengan pengamen dan pengemis

Tidak ada batas yang jelas antara Kota Tua dengan wilayah lainnya sebagaimana juga tidak ada tarif yang dikenakan jika kita telah menginjakkan kaki di dalam kompleks Kota Tua bahkan orang yang berada sejenak di dalam kompleks ini hanyalah orang lewat yang pulang pergi bekerja.

Sehingga siapa saja bisa singgah sekedar untuk merasakan nuansa Kota Tua. Saya ambil contoh jika kita masuk dari arah selatan yakni dari ruas Jalan Gajah Mada - Hayam Wuruk kita akan melewati Pusat Perbelanjaan Glodok yang merupakan pusat belanja elektronik. Ruas antara Glodok dan Museum Fatahillah saja sudah dipenuhi dengan bangunan ruko ruko tua yang sebagian sudah tak berpenghuni. Sehingga nuansa Kota Tua juga mulai terasa di sekitar kawasan yang juga tidak jelas apakah sudah masuk dalam kategori wilayah Kota Tua atau paling tidak masuk kategori Kota Lama.

Banyaknya pengunjung Kota Tua setiap saat seakan menjadi lahan subur bagi para pengamen dan pengemis. Sehingga untuk menikmati saat saat bermain di kawasan ini, kita harus bersikap positif dengan keberadaan mereka terlepas dari kesediaan kita memberi atau tidak karena sejauh yang saya amati pengamen pengamen Kota Tua yang jumlahnya cukup banyak masih kenal etika.

Salah satu triknya adalah bagaimana kita membuat diri kita nyaman dengan kehadiran pengamen dan pengemis.

Ruang Orang-orang Terusir

Baru saja saya meneguk kopi panas dalam cangkir plastik ketika sang penjual kopi tersebut mencoba mengajak ngobrol untuk menghilangkan rasa jenuhnya menunggu pembeli di bantaran Kali Besar yang merupakan tempat yang cukup asyik untuk minum kopi. Sang penjual kopi ternyata adalah karyawan di salah satu perusahaan dan merupakan alumni dari salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Dia lahir dan dibesarkan di sekitar Kawasan Kota Tua dan kembali bekerja di sekitar kawasan itu pula sambil mencari penghasilan tambahan di Kompleks Kota Tua sepulang kerja. Banyak hal yang diketahuinya tentang Kota Tua namun dari obrolan yang cukup lumayan sepertinya dia lebih tertarik membahas hal-hal aneh yang ditemuinya di Kota Tua.


Menjelang malam kompleks Kota Tua semakin ramai dengan orang orang yang terdiri dari berbagai macam maksud. Namun kalau dipelajari dengan seksama maka para “penghuni malam” kota tua lebih didominasi orang orang yang kurang mengerti, kurang tertarik bahkan kurang tentang sejarah Kota Tua itu sendiri. Kota Tua tampak yang cukup ramai saat ini di malam hari tak lebih dari sekedar ruang bermain bagi buat orang orang yang seakan terusir dari ruang ruang utama Kota Metropolitan yang sarat dengan pusat perbelanjaan mewah yang tentunya lebih 'ramah' untuk kalangan berduit.


Dalam kompleks Kota Tua sendiri terdapat lapak lapak dadakan yang menjual barang barang murah. Demikian juga dengan makanan dan minuman yang dijual dalam kompleks ini harganya adalah harga kaki lima bahkan Kota Tua juga bisa dianggap pasar kaki lima karena hampir seluruh penjual di kompleks ini adalah pedagang kaki lima. Hanya ada satu mini market di dalam kompleks ini yang menggunakan salah satu blok gedung tua.


Kota Tua yang berada di sebelah stasiun kereta Beos merupakan tempat rileks buat para pengamen yang seharian kelelahan bernyanyi di kereta. Sambil makan dan minum mereka pun terkadang masih mengamen lagi di di dalam kompleks Kota Tua. Jadi jangan heran jika sejenak kita duduk di kawasan ini, karena akan antri pengamen yang siap menghibur atau mengusik anda.


Kompleks Kota Tua juga merupakan tempat nongkrong para penganut aliran aliran "miring". Saya meminjam istilah teman ngobrol saya, sang penjual kopi tadi. Namun saya tidak punya andil membahas tentang kelompok kelompok yang dimaksud. Apalagi saya merasa sama sama bagian dari pengunjung Kota Tua. Faktanya adalah bahwa keberadaan mereka juga tidak mengusik orang orang lain bahkan kelompok 'kelompok miring' tersebut jualah yang banyak memberi andil buat Kota Tua lebih hidup setelah nyaris menjadi kota mati.



Di manakah Kota Tua Batavia ?

Di salah satu sudut Kota Metropolitan Jakarta terdapat sebuah kawasan yang disebut Kota Tua. Demikian mayoritas masyarakat yang bermukim di sekitar tempat ini menyebutnya. Sedangkan di kalangan masyarakat yang lebih luas, cukup menyebut kawasan ini dengan sebutan “Kota”. Seperti di kalangan para supir angkutan umum, kawasan ini memang disebut Kota sebagaimana tertulis di mobil mereka seperti rute angkot M12 (Kota - Senen ), M8 (Kota -Tanah Abang) dan lainnya. Saya sendiri dan kebanyakan orang tidak tahu persis apa perbedaan istilah Kota Tua dengan Kota. Apakah Kota Tua berada di dalam kawasan yang disebut Kota atau apakah istilah Kota hanya sebuah istilah untuk menyingkat Kota Tua sebagaimana yang menjadi kebiasaan para sopir dan kondektur di Jakarta yang suka menyingkat nama tempat dengan cukup menyebutkan kata depannya saja.

Tidak sulit untuk menemukan tempat ini karena dulunya merupakan terminal walaupun saat ini sudah tidak ada terminal lagi di kawasan ini dan tersisa beberapa titik yang menjadi tempat berhenti angkutan kota. Selain itu Kota Tua juga merupakan pemberhentian terakhir Bus TransJakarta Koridor 1 dan yang tak kalah penting pula adalah keberadaan Stasiun Kereta Beos.


Jadi Kota Tua dalam sistem transportasi tidak kalah terkenalnya dengan nama terminal terminal yang ada di Jakarta. Namun jika kita menyebut Kota Tua maka begitu banyak orang yang akan bertanya tanya di mana tempat yang bernama Kota Tua tersebut. Kota Tua diapit oleh tempat tempat yang cukup dikenal yakni Glodok di sebelah selatan yang cukup terkenal sebagai tempat belanja barang elektronik, Asemka di sebelah sebagai tempat belanja keperluan sekolah, Mangga Dua sebegai Pusat Garment di sebelah timur dan Pelabuhan Sunda Kelapa di sebelah utara. Jadi jika ditinjau dari sisi geografisnya maka Kota Tua seharusnya menjadi tempat yang familiar di kalangan masyarakat.

Di saat Museum Bank Mandiri, Stasiun Kereta Beos, Hotel Batavia dan bangunan bernuansa tua lainnya tampak di mata anda, berhentilah karena anda sudah berada di kawasan Kota Tua. Dan telusuri kota ini cukup dengan berjalan kaki atau cobalah menyewa sepeda ontel yang akan ditawarkan kepada anda di halam Museum Fatahillah..

See you in Old Town Batavia