October 31, 2012

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia terletak di Kawasan Kota Tua Batavia yakni di
Jalan Pintu Besar Utara no 3, bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri. Museum Bank Indonesia memiliki begitu banyak koleksi. Pengunjung tidak akan terlewatkan sajian dari Museum Bank Indonesia karena jalur pengunjung dibuat satu arah sehingga cukup dengan mengikuti petunjuk arah maka kunjungan kita ke museum ini benar benar bermakna dan menambah ilmu.

Sebut saja di pintu awal kita masuk maka kita akan dibawa ke masa lalu tentang maraknya perdagangan di Nusantara sebagai bagian dari perdagangan Asia dan merupakan cikal bakal munculnya perbankan di Nusantara.

Yang diperdagangkan adalah rempah rempah seperti pala, cengkih, lada dan kayumanis.

Ternyata penemuan Nusantara sebagai negeri yang kaya rempah rempah adalah terobosan yang mampu dilakukan oleh bangsa Eropa. Nusantara ditemukan oleh Bangsa Portugis pada abad ke 15 setelah menemukan jalan lewat laut ke Nusantara dengan mengitari Afrika. Tanjung Pengharapan yang merupakan ujung selatan dari Benua Afrika benar benar memberi pengharapan kepada para pelaut Eropa menemukan jalan ke Timur lewat laut. Jalur ke timur yang misteriuspun terbuka dan pada abad ke 17 Banten telah menjadi kota pelabuhan kosmopolitan.

Pada bagian selanjutnya kita akan disajikan sejarah perekonomian Indonesia dengan segala lika likunya yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah perbankan Indonesia..

Di sepanjang jalur pengunjung juga kita akan menemukan monitor monitor touch screen yang berisikan materi tentang ilmu dan sejarah perbankan.

Pada ujung jalur yakni mendekati pintu keluar kita akan menemukan begitu banyaknya koleksi uang dari berbagai penjuru dunia yang ditata dengan sangat apik.

October 18, 2012

Gedung Ex Chartered Bank

 Jika kita naik angkot M 08 dari arah Tanah Abang atau M 12 dari arah Senen maka kita akan melewati gedung ini setelah melewati Jembatan Kali Besar. Saat ini juga di depan gedung yang bersebelahan dengan Toko Merah ini sedang dibangun Halte Busway. Gedung ini adalah milik Bank Mandiri dan merupakan aset sejarah warisan zaman kolonial Hindia Belanda.

Gedung ini pada saat dibangun pada tahun 1920 oleh seorang arsitek bernama EHGH Cuypers adalah era di mana perdagangan Pemerintah Hindia Belanda sedang jaya jayanya dengan cukup gencar melakukan pembangunan di Batavia. Sedangkan posisi di mana gedung ini berada merupakan pusat bisnis pada masa tersebut karena tepat berada di depan jalur transportasi air yakni Kali besar dan juga jalur darat yakni jalan Kalibesar Barat.

Bagaimanakah sejarahnya sehingga gedung ini menjadi milik Bank Mandiri ?
Gedung ini dibangun sebagai kantor cabang Chartered Bank of India, Australia dan China di Batavia. Namun pada tanggal 2 Maret 1965 diserahkan oleh pemerintah pengelolaannya kepada Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian menjadi Bank Bumi Daya (BBD) Desember 1968

October 17, 2012

Museum Bank Mandiri

Salah satu gedung yang berisi koleksi perbankan yang cukup banyak adalah Gedung Museum Bank Mandiri yang berseberangan langsung dengan Stasiun Kereta Api Beos.

Jika kita turun di Halte Busway Stasiun Kota dan melewati under pass pejalan kaki dengan turun lewat jalan berbentuk lingkaran maka pada saat kita naik kembali lewat tangga pintu barat maka di pintu keluar kita langsung menemukan gedung Museum Bank Mandiri. Sebuah gedung warisan Kolonial Belanda yakni sebuah karya masterpiece yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta no 475/1993. Gedung ini dirancang oleh dua orang arsitek Belanda yakni J.J.J. De Bruyn A. P Smits dan C Van Der Linde, mulai dibangun 1929 oleh kontraktor Nedam dan diresmikan 14 Januari 1933 sebagai Gedung Factorij Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Batavia. Sebutan lain untuk gedung ini adalah Nederlandsche Trading Society (NTS).

Pada masa Perang Dunia II Jepang mengalahkan Sekutu di Asia dan mengakhiri kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda di bumi nusantara. Selama masa pendudukan Jepang gedung ini ditutup yakni sejak Maret 1942 dan beroperasi kembali 14 Maret 1946. Setelah dinasionalisasi oleh Republik Indonesia, kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) 5 Desember 1960. Gedung ini menjadi Kantor Pusat BKTN urusan ekspor impor. Pada tanggal 17 Agustus 1965, dimulainya era bank tunggal maka gedung ini menjadi salah satu Kantor Pusat BNI unit II sampai 31 Desember 1968 yang merupakan hari lahirnya bank Exim Indonesia dan menjadi Pusat Bank Exim hingga 1995. Setelah itu pindah ke kantor pusat yang baru di Jalan Gatot Soebroto Kavling 36-38 yang sekarang adalah Plaza Mandiri.

Loket masuk ke Museum Bank Mandiri ini memanfaatkan sebagian kecil dari ruas meja yang dulunya meja teller yang cukup panjang di mana nuansa gedung saat masih beroperasi dicoba untuk tetap dihadirkan seperti dengan tetap menempelkan informasi yang dibutuhkan oleh nasabah yang berkunjung pada masa itu. Demikian pula dengan banyaknya patung patung yang tampak sedang beraktifitas baik sebagai karyawan bank maupun sebagai nasabah.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menelusuri museum ini dari ujung ke ujungnya dan dari lantai atas hingga lantai bawa.

Yang cukup menarik adalah bukan semata kita ditunjukkan benda benda kuno perbankan namun terlebih lagi adalah tanpa sadar bagi yang awam tentang perbankan bisa memperoleh begitu banyak ilmu terutama ilmu dasar tentang operasional perbankan serta bagaimana perbankan beradaptasi dengan kemajuan teknologi

October 6, 2012

Prasasti Tugu

Prasasti Tugu ditemukan di kampung Batutumbuh, Desa Tugu, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu berbentuk bulat telur setinggi sekitar 1 meter dalam 5 baris Pallawa dan Bahasa Sansekerta. Pada Prasasti Tugu tidak tercantum tahun berapa tahun berapa prasasti tersebut dibuat tetapi berdasarkan bentuk tulisannya diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke 5.

Prasasti Tugu merupakan prasasti peresmian selesainya pembangunan saluran kali Gomati pada tahun ke 22 pemerintahan raja Purnawarman.
Sumber : Museum Sejarah Jakarta

Museum Wayang

Museum Wayang adalah museum tentang pewayangan. Wayang adalah kasanah seni Jawa dan Sunda yang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 Nopember 2003 di Paris. Dengan memproklamirkan wayang Indonesia sebagai Masterpiece Of The Oral and Intangible Heritage of Humanity di mana Wayang Indonesia telah diakui sebagai karya agung budaya dunia.

Secara resmi penyerahan Piagam penghargaan UNESCO dilaksanakan tanggal 21 April 2004 di Paris, Perancis

Gedung Museum Wayang yang berada di dalam kompleks Kota Tua beralamat di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27 Jakarta Barat dibangun tahun 1912 yang sebelumnya merupakan gereja yang dibangun pada tahun 1640 dengan nama De Oude Holandsche Kerk. Pada tahun 1732 gereja ini direnovasi dan namanya diganti menjadi De Niew Holandsche Kerk.

Bangunan gereja ini pernah hancur total akibat gempa bumi. Genootshap van Kunsten en Wetwnschappen yaitu lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia membeli bangunan ini. Oleh lembaga itu gedung tersebut diserahkan kepada Stichting Oud Batavia. Pada tanggal 22 Desember 1939 dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasche Museum. Pada tahun 1957 gedung ini diserahkan kepada Lembaga kebudayaan Indonesia dan pada tanggal 17 September 1962 diberikan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang selanjutnya diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta pada tanggan 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang. Museum Wayang diresmikan Gubernur DKI Jakarta (mantan) bapak Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975 dan sejak 16 September 2003 mendapat perluasan bangunannya hibah dari bapak H Probosutedja

Patung Dewa Hermes

Patung ini dibeli di Hamburg pada tahun 1920an oleh seorang pedagang Jerman yang kemudian menjadi warga negara Belanda bernama Karl Wilhelm Stolz. Beliau mempunyai toko di Jalan Veteran, Batavia.

Patung Hermes berdiri di halaman rumahnya walapun istrinya sama sekali tidak senang dengan patung "porno". Setelah istrinya meninggal dunia tahun 1930 dia menjual tokonya dan patung Hermes disumbangkan kepada pemerintah Batavia sebagai tanda terima kasih atas kesempatan yang dia dapatkan untuk berdagang di Hindia Belanda.

Kemudian patung diletakkan di atas Jembatan Harmoni dan konon berulang kali dicat sesuai warna jembatan. Namun dengan pertimbangan keamanannya patung dipindah pada tahun 2000 ke halaman belakang Museum Sejarah Jakarta.

Sebagai gantinya sebuah replika dibuat oleh pematung Arsono dari Yogyakarta dan diletakkan di Jembatan Harmoni.

Dalam mitologi Yunani Dewa Hermes (atau Dewa Mercurius menurut Bangsa Romawi ) adalah Putra Dewa Zeus dengan Peri Maya. Hermes merupakan pesuruh dan pembawa berita terutama berita dari Dewa Zeus. Hermes seorang Dewa yang cerdas dan cepat gerak geriknya. Hermes merupakan Dewa Pelindung para gembala, pedagang, pengantar roh roh ke alam baka dan juga pelindung sekolah sekolah dan olah raga serta para atlit.

Hermes ditampilkan sebagai pemuda yang memakai topi dalam posisi sedang berlari bertumpu pada satu kaki (Kaki bersayap lambang kecepatan) memegang tongkat bersayap dan dililit dua ekor ular lambang perdagangan atau juga dapat digambarkan dengan memegang sebuah dompet lambang pedagang pedagang

Penjara Di Gedung Balai Kota

Selain sebagai balai kota, Gedung Museum Sejarah Jakarta juga berfungsi sebagai penjara, yakni penjara Dewan Keadilan dan penjara Dewan Kotapraja yang mempunyai penjaranya sendiri sendiri.

Penjara di bawah wewenang Dewan Keadilan berada di bagian timur gedung Balai Kota (Sekarang Kantor Kota Tua) dan dipakai untuk tahanan VOC sedangkan Penjara di bawah wewenang Dewan Kotapraja adalah di bagian barat dekat jalan Pintu Besar dan dipakai untuk tahanan warga Kota Batavia yang bukan pegawai VOC. Halaman belakang dan beberapa gedung di sampingnya juga dipakai untuk penjara dan rumah penjaga.

Selain ruang penjara tersebut ada juga ruang di bawah penjara Dewan Kotapraja ("doncker gat" atau lubang gelap), serta nama sebuah sel dibawah gedung belakang yang lebih dikenal dengan "Penjara Bawah Tanah" (Dua ruang di bawah wewenang Dewan Keadilan dan tiga di bawah wewenang Dewan Kotapraja )

Tahanan bukanlah orang orang yang sudah diadili tetapi menunggu proses pengadilan (menunggu keputusan hakim ). Pada abad 17 dan 18 ada beberapa bentuk hukuman yaitu hukuman mati, hukuman siksa, hukuman dirantai dan kerja keras namun sejak abad 19 baru ada hukuman penjara.

Yang tinggal lama di penjara hanya ada dua kelompok yaitu budak budak yang dikirim oleh majikan mereka karena pelanggaran yang seringkali bersifat sepele dan orang yang belum melunasi utangnya dan memilih tinggal di penjara saja. Dengan membayar sipir kondisi mereka di penjara tidak terlalu buruk.

Jumlah tahanan yang meringkuk di dalam penjara sering melebihi tiga ratus orang. Karena kondisi kesehatan penjara ini sangat buruk banyak tahanan yang sudah meninggal sebelum perkara mereka diajukan ke meja pengadilan sebagian besar akibat menderita tifus kolera dan disentri.

Penjara ini ditutup 1846 lalu dipindahkan ke sebelah timur Jalan Hayam Wuruk (sekarang pasar Lindeteves)

Hukuman mati dilaksanakan di depan serambi yang bertiang tiang pada hari tertentu setiap bulan. Para hakim duduk mengenakan pakaian kebesaran mereka pada balkon di lantai dua untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati. Sedangkan lonceng di menara gedung dibunyikan 3 kali selama proses pelaksanaan hukuman mati

Pejuang yg pernah ditawan disini antara lain Untung Suropati seorang budak belian pedagang Pieter Cnoll, dia adalah satu dari sedikit sekali orang yang bisa meloloskan diri dari perkara ini (sekitar tahun 1670). Dia kemudian memberontak melawan Belanda dan terlibat dalam pembunuhan Captain Tack pada tahun 1686 di Kraton Kratosuro. Meninggal 1706

Pada tahun 1830 Pangeran Diponegoro Pahlawan Perang Jawa tahun 1825-1830. Ditahan selama hampir satu bulan di tingkat dua dalam sayap gedung sebelah timur setelah dia ditangkap di Magelang secara khianat sebelum pengasingannnya ke Manado.

Sel dibawah tanah menggunakan tralis yang sangat kuat. Bola bola yang kuat diikat pada kaki tawanan supaya mereka tidak bisa lari.

Hukuman mati Tjoen Boen tahun 1896 di depan gedung Balai Kota merupakan eksekusi yang terakhir di tempat ini.

Sumber : Museum Sejarah Jakarta

Mimbar (Pulpit)

Mimbar ini berasal dari Mesjid Kampong Baru / Mesjid Bandengan yang terletak di selatan Ammanusgracht, sekarang Jalan Bandengan Selatan (Simpang Jalan Pekojan 1)
Mimbar ini dibuat pada pertengahan abad 18 dan seluruhnya dibuat dari kayu jati. Ukiran menikuti gaya VOC yang umum pada zaman itu. Pada tahun 1939 pengurus mesjid menjual mimbar ke Batavia Genootschap (Sekarang Museum Nasional) dan dananya dipakai untuk memperbaiki mesjid tersebut. Karena banyak kena rayap mimbar direnovasi dan beberapa bagian diganti. Di dalam mesjid mimbar baru dibuat dari beton.

Meriam Si Jagur

Meriam Portugis ini dibawa ke Batavia oleh Belanda sesudah merebut Malaka (1641). Panjangnya 3.81 m, beratnya 3.5 ton dan diameter dalam atau kaliber 24 cm, cocok untuk peluru batu 36 pound atau peluru besi 100 pound. Pada awal ditempatkan di Benteng Batavia untuk menjaga pelabuhan, tetapi kemudian dipindahkan ke magasin altilery dekat jalan Tongkol. Sesudah magasin dibongkar pada tahun 1810 meriam Si Jagur ditinggalkan. Mungkin karena terlalu berat.
Bentuk meriam Si Jagur ini unik karena bagian belakang berbentuk tangan dengan ibu jari dijepit antara telunjuk dan lari tengah. Kepalan tangan diperkirakan kepalan tangan perempuan. Bentuk kepalan tangan tersebut dalam Bahasa Portugis disebut "mano in figa" yang dapat diartikan sebagai simbol untuk menangkal kejahatan atau juga untuk mengejek orang Belanda, musuh besar orang Portugis

October 2, 2012

Transyogi, The Street of Presiden

Where is the street ? If we go to Bogor via Jagorawi toll, we will pass the exit toll Cibubur. If we try to enter this gate will find Transyogi street. Transyogi street spread from the Cibubur exit toll gate untill Cileungsi, a little city at southeast side of Jakarta. But this time Jakarta and Cileungsi were developing to be one city.
The fusion Jakarta and Cileungsi go on at along this street namely Transyogi. This street developing very fast and finally almost crowded when Susilo Bambang Yudoyono (SBY) that address in this street filled as Indonesian President in 2004, exactly in the place said Cikeas. Cikeas name had been a brand than always used by developer in selling their property that before so much constructed around Cikeas. 

Along this street we'll find Jambore Buperta, McDONALD Drive Thru, Pizza Hut, Cwie Mie Malang, Dunkin Donat, Dermaga Dimsun, Cibubur Point,Fiesta Steakhouse, Hanamasa, Prodia Lab, Plaza Cibubur,
Rafles Hills, SPBU Petronas,Taman Laguna, Puri Sriwedari, Permata Hospital, Meilia Hospital,Cibubur Residence etc