October 17, 2012

Museum Bank Mandiri

Salah satu gedung yang berisi koleksi perbankan yang cukup banyak adalah Gedung Museum Bank Mandiri yang berseberangan langsung dengan Stasiun Kereta Api Beos.

Jika kita turun di Halte Busway Stasiun Kota dan melewati under pass pejalan kaki dengan turun lewat jalan berbentuk lingkaran maka pada saat kita naik kembali lewat tangga pintu barat maka di pintu keluar kita langsung menemukan gedung Museum Bank Mandiri. Sebuah gedung warisan Kolonial Belanda yakni sebuah karya masterpiece yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta no 475/1993. Gedung ini dirancang oleh dua orang arsitek Belanda yakni J.J.J. De Bruyn A. P Smits dan C Van Der Linde, mulai dibangun 1929 oleh kontraktor Nedam dan diresmikan 14 Januari 1933 sebagai Gedung Factorij Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Batavia. Sebutan lain untuk gedung ini adalah Nederlandsche Trading Society (NTS).

Pada masa Perang Dunia II Jepang mengalahkan Sekutu di Asia dan mengakhiri kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda di bumi nusantara. Selama masa pendudukan Jepang gedung ini ditutup yakni sejak Maret 1942 dan beroperasi kembali 14 Maret 1946. Setelah dinasionalisasi oleh Republik Indonesia, kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) 5 Desember 1960. Gedung ini menjadi Kantor Pusat BKTN urusan ekspor impor. Pada tanggal 17 Agustus 1965, dimulainya era bank tunggal maka gedung ini menjadi salah satu Kantor Pusat BNI unit II sampai 31 Desember 1968 yang merupakan hari lahirnya bank Exim Indonesia dan menjadi Pusat Bank Exim hingga 1995. Setelah itu pindah ke kantor pusat yang baru di Jalan Gatot Soebroto Kavling 36-38 yang sekarang adalah Plaza Mandiri.

Loket masuk ke Museum Bank Mandiri ini memanfaatkan sebagian kecil dari ruas meja yang dulunya meja teller yang cukup panjang di mana nuansa gedung saat masih beroperasi dicoba untuk tetap dihadirkan seperti dengan tetap menempelkan informasi yang dibutuhkan oleh nasabah yang berkunjung pada masa itu. Demikian pula dengan banyaknya patung patung yang tampak sedang beraktifitas baik sebagai karyawan bank maupun sebagai nasabah.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menelusuri museum ini dari ujung ke ujungnya dan dari lantai atas hingga lantai bawa.

Yang cukup menarik adalah bukan semata kita ditunjukkan benda benda kuno perbankan namun terlebih lagi adalah tanpa sadar bagi yang awam tentang perbankan bisa memperoleh begitu banyak ilmu terutama ilmu dasar tentang operasional perbankan serta bagaimana perbankan beradaptasi dengan kemajuan teknologi

No comments:

Post a Comment